Mei 13, 2009

akankah seperti ini lagi…?

Di tengah gejolak bencana di berbagai belahan dunia, kesinambungan kehidupan umat manusia memasuki fase kritis dan dramatis. Dunia mengalami krisis pangan sampai tahun 2010

Ancaman kelaparan hingga kematian pun membayang! Begitu besarnya tingkat ancaman ini, pimpinan Badan Pangan Dunia, PBB (WFP), 6 Maret

2008 lalu, memperingatkan peningkatan harga pangan dasar akan berlanjut hingga dua tahun ke depan.

Adalah Josette Sheeran, sang pejabat tertinggi WFP menilai penyebab utamanya krisis ini adalah lonjakan harga energi dan biji bijian, pengaruh perubahan iklim dan permintaan bahan bakar bio. WFP pun merencanakan penjatahan bantuan pangan, akibat kelangkaan dana.

Harga sejumlah pangan, naik 40 persen tahun lalu, dan WFP khawatir warga termiskin dunia akan membeli lebih sedikit pangan, makanan yang kurang bergizi atau terpaksa lebih menggantungkan diri pada bantuan.

Usai bertemu Parlemen Eropa, Sheeran mengatakan badan ini memerlukan dana tambahan 375 juta dolar bagi proyek pangan tahun ini dan 125 juta dolar untuk mengirimkannya. “Ini bukan gelembung jangka pendek, tetapi akan terus membengkak,” tegas Josette Sherran.

Ia tak melihat jalan keluar dalam jangka pendek karena tingginya harga pangan dan bahan bakar. “Kita menghadapi harga pangan yang tinggi paling tidak dalam beberapa tahun terakhir,” katanya.

Sheeran mengungkapkan, cadangan pangan dunia berada pada level terendah dalam 30 tahun terakhir, karena hanya mampu memenuhi pengiriman darurat selama 53 hari dibanding 169 hari pada tahun lalu.

Bahan Bakar Bio Picu Krisis…? rebutan

Satu faktor penting yang memicu harga pangan melambung adalah produksi bahan bakar bio. Menurut Sheeran, permintaan tanaman untuk memproduksi bahan bakar bio meningkatkan harga pangan, seperti minyak kepala sawit.

Itu sebabnya, pemerintah perlu lebih memperhatikan kaitan antara peningkatan bahan bakar bio dan pasok pangan serta tanggap mengambil tindakan.

Dari data dan fakta WFP, negara negara yang terkena getahnya secara langsung adalah Zimbabwe, Eritrea, Haiti, Djibouti, Gambia, Tajikistan, Togo, Chad, Benin, Burma, Kamerun, Nigeria, Senegal, Yaman dan Kuba.

Bukti awal saat ini telah terjadi di beberapa negara, antara lain Afganistan, di mana 2,5 juta orang tak mampu membeli gandum yang harganya naik lebih 60 persen pada tahun 2007. Bangladesh, harga beras naik 25-30 persen dalam 3 bulan terakhir. Tahun 2007, kenaikan harga mencapai 70 persen.

Di El Salvador pun tak luput dari gejolak pangan saat ini. Masyakarat pedesaan hanya dapat membeli pangan kurang 50 persen dibanding 18 bulan lalu. “Berarti nutrisi dalam makanan berkurang setengahnya,” jelas Sheeran.

Kemarahan karena peningkatan harga pangan diperkirakan akan memburuk di beberapa negara. WFP mencermati kemungkinan terjadinya kerusuhan di Burkina Faso, Kamerun, Senegal dan Maroko, akibat krisis pangan ini.

Baca juga :



2 komentar:

baburinix! mengatakan...

akakan ini akan terjadi di indonesia?
apakah pohon pohon di indonesia mampu bertahan 10-20 mendatang?
karena kelangkaan kayu,maka merembet pada pohon pohon yang merupakan sebagian pangan orang indonesia, akankah ini di biarkan saja?

POCiL mengatakan...

mampir yO kang....

Posting Komentar

ninggal jejak sini yach...

web site counter